BERANDA

Pages

Tampilkan postingan dengan label INFO GURU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INFO GURU. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Juni 2016

BEASISWA S1 BAGI LULUSAN MADRASAH

Dalam rangka meningkatkan mutu dan daya saing lulusan pendidikan madrasah, Kementerian
Agama melalui Direktorat Pendidikan Madrasah memberikan Beasiswa Biaya Hidup untuk
melanjutkan studi jenjang Strata Satu (S1) di sejumlah universitas yang terakreditasi di luar
negeri baik Asia, Amerika, Eropa dan Timur Tengah .
Bisa di sedot DISINI

JUKNIS TUNJANGAN PROFESI 2016

Berikut kami lampirkan juknis tunjangan profesi 2016. Siapkan berkas-berkas anda bagi yang sudah memenuhi persyaratan.
Silahkan download DISINI

Sabtu, 18 Juni 2016

BEBERAPA PENYEMPURNAAN EMIS SEMESTER GANJIL TP. 2016-2017

Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2016/2017 mendatang rencananya akan dilakukan penyempurnaan aplikasi EMIS. Perubahan tersebut diantara adanya penambahan variable pada form data lembaga, data personal, data siswa, data lulusan, dan data pegawai madrasah. Jika kita lihat, penambahan data tersebut sudah disesuaikan dengan data pada aplikasi Dapodik Kemendikbud. 
Secara umum, mekanisme updating semester ganjil TP 2016/2017 rencananya masih akan menggunakan mekanisme yang sama dengan periode sebelumnya :
1.    Input/Update Data menggunakan Form Data Excel
2.    Validasi Data menggunakan Aplikasi Desktop EMIS
3.    Upload Data menggunakan Aplikasi EMIS Online
Untuk updating semester genap TP 2016/2017 direncanakan akan ada perubahan mekanisme updating dan aplikasi yang digunakan.
Penambahan Variabel pada Form Data Lembaga 
1. Jenis Bahasa Asing (Jika Memiliki Jurusan Bahasa), Khusus MA : Bahasa Arab, Bahasa Mandarin, Bahasa Jepang, Bahasa Perancis, Bahasa Jerman, dll
2. Kategori Wilayah Khusus :
- Daerah Terpencil/Terbelakang    
- Daerah Masyarakat Adat    
- Daerah Bencana Alam/Sosial
- Daerah Perbatasan
3. Kepemilikan Sertifikat ISO :
- ISO 9001:2000    
- ISO 9001:2008    
- Dalam Proses
- Belum
4. Daya Tampung Asrama Madrasah
5. Gelar Depan & Gelar Belakang Kepala Madrasah
6. Status Menerima BOS : - Bersedia    - Tidak Bersedia
7. Luas Tanah Berstatus Wakaf & Hak Guna Bangunan
8. Jumlah Sarpras/Bangunan dalam Kondisi Rusak Sedang
9. Laboratorium PAI didata
10. Status Kepemilikan Sarpras Pendukung Pembelajaran : -Milik Sendiri    -Bukan Milik Sendiri
11. Besarnya Daya Listrik (Watt) 
12. Ketersediaan Air Sanitasi (Kecukupan Air, Sumber Air Sanitasi & Air Minum untuk Siswa)
13. Kualitas Jaringan Internet
14. Jaringan Internet Yang Tersedia
15. Riwayat Bantuan Yang Pernah Diterima Madrasah
Penambahan Variabel pada Form Data Personal/PTK 
1.  Agama PTK
2. Riwayat Pendidikan PTK (Jenjang S1, S2 & S3) 
3. Tambahan Data Guru Tetap Non-PNS (Nomor SK dan Tanggal SK Pengangkatan Guru Tetap Non-PNS)
4. Tambahan Data Inpassing Guru Non-PNS (Nomor SK Inpassing dan Tanggal SK Inpassing)
5. Tambahan Data Terkait Sertifikasi Guru 

Penambahan Variabel pada Form Data Siswa

1. Jenis Beasiswa Yang Diterima Tahun 2016
2. Jangka Waktu Beasiswa Yang Diterima Tahun 2016 (dalam satuan bulan)
3. Jumlah Uang Beasiswa Diterima
4. Agama Siswa 
5. Jenis Bahasa Asing Yang Dipilih Siswa  Khusus siswa jurusan Bahasa MA :
6. Nama Wali Kelas Saat Ini
7. NPSN Sekolah pada Jenjang Sebelumnya
8. Nomor Blanko SKHUN pada Jenjang Sebelumnya  Untuk MA & MTs
9. Nomor Seri Ijazah pada Jenjang Sebelumnya  Untuk MA & MTs
10. Total Nilai UN pada Jenjang Sebelumnya  Untuk MA & MTs
11. Tanggal Kelulusan pada Jenjang Sebelumnya
12. Identitas Wali Siswa (Jika Yang Menanggung Biaya Pendidikan bukan Orangtua Kandung Siswa)
13. Jenis Tempat Tinggal Siswa 

Penambahan Variabel pada Form Data Lulusan  

1. Nomor Induk Kependudukan (NIK) Lulusan
2. Agama Lulusan 
3. Nomor Peserta Ujian Nasional (UN) Lulusan
4. Nomor Blanko SKHUN Lulusan
5. Nomor Seri Ijazah Lulusan
6. Tanggal Kelulusan

Penambahan Variabel pada Form Data Pengawas Madrasah

1.  Riwayat Pendidikan Pengawas Madrasah (Jenjang S1, S2 & S3) 
2. Tambahan Data Terkait Sertifikasi Pengawas Madrasah

Silahkan unduh FILE EMIS Semester Ganjil TP 2016/2017 DISINI

Selasa, 14 Juni 2016

EDARAN TUNJANGAN FUNGSIONAL TAHAP I

Edaran Tunjangan Fungsional Tahap I bisa di download DISINI

JUKNIS TUNJANGAN FUNGSIONAL

Juknis Tunjangan Fungsioanal tahun 2016 dapat di download DISINI

VERVAL NRG TAHUN 2016 SEMESTER GENAP


          Saat ini operator SIMPATIKA Kanwil Kemenag Prov. Jateng sedang memproses verval NRG. Mekanisme verval NRG adalah sebagai berikut:

1. Memastikan bahwa scan Ijazah S1 dan Sertifikat Pendidikan adalah scan dari dokumen asli, bukan fotocopy meskipun dilegalisir

2. Memastikan bahwa Ijazah S1 diterbitkan sebelum proses sertifikasi, Apabila Ijazah-nya bukan S1, maka per 2013 harus sudah melebih usia 50 tahun
3. Kode mapel sertifikasi harus sama dengan yang tertera pada digit ke 7,8,9 pada nomor peserta sertifikasi, dengan mengabaikan tahun lulus sertifikasi. Tetapi harus diusahakan sesuai kode nomor peserta sertifikasi sesuai tahun terdekat.

             Apabila ada salah satu dari ketiga kriteria tersebut, tidak terpenuhi, Verval NRG akan DITOLAK, dan harus diulang sesuai kriteria tersebut. Adapun surat resminya sebagai berikut :
Silahkan Klik Downlod

Senin, 13 Juni 2016

Surat Edaran Tentang Keaktifan Data Guru Madrasah Calon Peserta Sertifikasi


Berikut Surat Edaran Tentang Keaktifan Data Guru Madrasah Calon Peserta Sertifikasi Tahun 2016 dapat di Unduh di :
http://adf.ly/1bAKdK

MENGENAL KECERDASAN KITA


Oleh Siti Halimah, S.Pd.I



Kecerdasan atau kemapuan manusia sangat beragam, namun secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi tiga macam yaitu :
1. Kecerdasan spiritual (SQ)
Kecerdasan spiritual merupakan kemampuan kita untuk berahlak mulia dan mengenal siapa diri kita dan Tuhan kita. Jadi SQ bukan hanya kemampuan untuk menjalankan ibadah semata saja, tetapi bagaimana ibadah yang kita laksanakandapat dimaknai dan diterapkan dalam kehidupan kita. Artinya perilaku kita merupakan cerminan dari ibadah yang telah kita laksanakan sehingga kita jadi manusia yang dicintai oleh Tuhan dan makhluk-Nya.
2. Kecerdasan Emosional (EQ)
Kecerdasan emosional adalah kemampuan kitauntuk dapat mempengaruhi dan diterima orang lain dengan baik. Kecerdasan emosional mencakup pengendalian diri, semangat dan ketekunan, serta kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi. Kesanggupan untuk mengendalikan dorongan hati dan emosi, tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati, dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berfikir, untuk membaca perasaan terdalam orang lain (empati) dan berdoa, untuk memelihara hubungan sebaik-baiknya,kemampuan intuk menyelesaikan konflik serta untuk memimpin diri sendiri dan lingkungan sekitarnya.
            Selama ini EQ kurang diajarkan kepadagga kemampuan anak untuk mencintai dan dicintai oleh sesame menjadi kendala dalam bergaul dan berteman. Kesulitan dalam bermasyarakat kebanyakan berawal dari kurangnya kecerdasan emosional kita.
3. Kecerdasan Intelektual (IQ)
            Kecerdasan intelektual adalah kemampuan kita untuk mengolah dan berfikir kognitif. Kecerdasan yang terukur dengan angka-angka sejak kita berada di bangku sekolah adalah kecerdasan intelektual.
            Manusia siapapun dia adalah mahluk yang diciptakan Tuhan dan telah mengikat perjanjian dengan-Nya bahwa dia adalah mahluk-Nya. Pada saat ruh ditiupkan oleh sang pencipta manusia dibekali sifat-sifat yang mulia untuk bekal hidupnya. Sifat-sifat yang ditiupkan Allah itulah fitrah yang dibawa lahir ke dunia. Jadi, ketika manusia telah menjadi janindan lahir di dunia ini dia telah memiliki sfitrah yang suci, yakni fitrah dari Allah. Oleh karena itulah fitrah manusia harus selalu dijaga agar tidak terkotori sifat-sifat setan yang sering kita sebut dengan nafsu manusia, seperti dengki, sombong, dusta, malas dan sifat berlebihan.

            Untuk menjaga fitrah, perlu dilakukan pengenalan kembali tentang siapa Tuhannya. Bagaiman kita sebagai mahluk Tuhan harus menjalankan hidup di dunia ini, bagaimana agar kita selalu dicintai oleh Tuhan. Itulah kecerdasan spiritual. Karakter ini perlu dibentuk atau ditanamkan terlebih dahulu sebelum kita mendapatkan kecerdasan emosional dan kecerdasan intelektual. Dengan itu kita akan tahu bahwa kecerdasan yang kita miliki adalah untuk menjalankan perintahNya. Bukan untuk hal-hal yang akan membawa bahaya bagi diri kita, orang lain dan mahluk lainnya yang ada disekitar kita.

Daftar bacaan
-          Daniel Golman, Kecerdasan Emosional 2004

-          Cara Efektif Mengasuh Anak dengan EQ, Bandung, Kaifa 2000

Tragedi Toga dibalik Wisuda

Oleh: Shohibul Habib, S.Th.I

Dalam hiruk-pikuk selebrasi wisuda, toga menjelma bagai “jas presiden” yang pantas diagung-agungkan. Toga mengabarkan pada khalayak bahwa seorang anak manusia telah selesai masa studinya di universitas atau sekolah dengan raihan gelar bertajuk sarjana/wisudawan. Toga mengukuhkan kuasa serta identitas murid menjadi manusia merdeka dan berhasil lulus. Ya, manusia yang merdeka dari kungkungan pelbagai tugas kuliah, PR Sekolah dan tetek-bengek urusan pendidikan.
Aneh kedengarannya, jika wisudawan atau wisudawati tak mengenakan toga saat wisuda tiba. Entah fenomena ini telah menjadi tradisi wajib para akademisi saat wisuda tiba, atau sekadar selebrasi event yang bisa saja diganti jika sudah tak relevan dengan zamannya. Yang pasti, toga telah ditafsir wisudawan atau wisudawati sebagai simbol kesuksesan studi.
Sadar atau tidak, toga yang seharusnya menjadi simbol “kewibawaan” bagi para sarjana, alih-alih justru menjelma menjadi tragedi yang memilukan, bahkan menyengsarakan. Toga menjadi tragedi, tatkala sarjana tak kuasa memaknainya secara kritis. Toga yang semula menjadi kawan saat wisuda, bisa jadi akan menjadi lawan saat pesta-pora wisuda usai. Ya, toga menjadi lawan yang akan “menertawakan” sinis pada sarjana, jika sarjana tak mampu memberikan kontribusi riil atau sekadar mendistribusikan ilmunya bagi masyarakat sekitarnya.
Secara tak sadar, selama ini sebenarnya toga telah berhasil mengelabuhi asumsi seorang sarjana bahwa toga adalah segalanya, pengakuan status kesarjanaan, sehingga harus dikejar mati-matian. Padahal, jika kita mau berpikir kritis sejenak, toga sebenarnya ingin menagih obralan janji kaum akademisi sebagai penyeru “agen perubahan sosial” yang digembar-gemborkan dahulu. Sudahkah mereka menjadi agen perubahan sosial?
Bagi saya, toga tak lebih seperti sarung atau celana bagi muslim saat sembahyang mengahadap Tuhannya. Toga hanyalah simbol formal selebrasi hajatan universitas atau sekolah yang berjudul wisuda. Selebihnya, toga tak beda dengan pakaian lainnya. Meski begitu, toga bukan berarti miskin makna. Toga tetaplah busana sakral bagi para pemakainya (wisudawan/wisudawati), karena di dalam toga tersemat pelbagai makna agung.
Tafsir Toga vis a vis Kontribusi Sarjana
Dalam toga tersimpan pelbagai makna lewat sematan simbol dan tanda yang unik. Bicara soal symbol dan tanda, otomatis bicara soal semiotika budaya (cultural semiotic). Roland Barthes —ahli semiotik asal Perancis— pernah menyatakan, simbol yang tercipta dalam sebuah medium yang bersifat masif merupakan representasi dari budaya yang ada (Peter Pericles Trifonas: 2003). Jadi, jika dulu toga hanya dikenal bangsa Romawi kuno sekitar abad 1200 SM sekadar sebagai pakaian yang dililitkan ke tubuh saat dalam ruangan, maka kini, derajat toga telah tinggi dan menjadi budaya pakaian kaum akademisi yang dipakai hanya saat event tertentu seperti wisuda.
Jika kita mau menilik eksistensi toga, setidaknya terdapat tiga simbol dengan tiga makna yang unik dan berbeda dalam tubuh toga. Yakni, warna hitam pada toga, topi toga Idealnya, berbentuk persegi, dan kuncir tali di topi toga. Pertama, warna hitam pada toga. Seperti jamak diketahui, hitam merupakan simbol misteri dan kegelapan. Nah, misteri dan kegelapan inilah yang harus dikalahkan oleh para sarjana. Sejauh mana mereka mau mentransformasikan ilmunya pada masyarakat. Selain itu, warna hitam juga berarti keagungan. Maka dari itu, selain sarjana, hakim dan pemuka agama pun memakai toga dengan warna hitam. Jadi, sarjana adalah teladan masyarakat. Tak sepantasnya jika mereka menyalahi norma.
Kedua, topi toga berbentuk persegi. Topi toga berbentuk persegi menyimbolkan bahwa seorang sarjana dituntut mampu berpikir rasional, dan memandang segala sesuatu dari pelbagai sudut pandang secara komprehensif. sarjana harus mampu berpikir multidisipliner, tak rigid, dan tak eksklusif, dengan harapan agar tidak timbul klaim-klaim kebenaran yang berpotensi lahirnya konflik.
Ketiga, kuncir tali di topi toga. Saat penyerahan ijazah sarjana, master, atau doctor, biasanya kita mengamatia adanya seremonial pindah kuncir taliyang semula dari kiri kemudian digeser ke kanan. Ini tentu bukan tanpa makna. Ini pertanda bahwa setelah menjadi wisudawan-wisudawati, ia dituntut untuk lebih menggunakan otak kanannya-yang meniscayakan kreatifitas dan inovatifitas pengembangan ilmu pengetahuan, dari pada penggunaan otak kiri yang cenderung berfungsi menerima asupan ilmu pengetahuan.
Terlepas dari semua hiruk pikuk wisuda serta makna simbolis toga tersebut, persoalan mendesak saat ini adalah sudahkah para sarjana itu memberikan kontribusi nyata pada masyarakat sekitarnya? Idealnya, wisuda tidak hanya diartikan sebagai selesainya masa study dengan raihan gelar dan “keberhasilan semu”, tapi wisuda lebih tepat diartikan sebagai moment memulai belajar dengan realitas kehidupan yang penuh dengan problematika akut. Dari sana seharusnya para wisudawan tahu kalau yang dibutuhkan masyarakat adalah kontribusi kalian, bukan sebatas kerangka teoritik yang justru tidak bias dipahami masyarakat awam. Segera tentukan peranmu dan jadilah insan yang bermanfaat karena sebaik-baiknya manusia adalah yang berguna bagi sesama.
Penulis adalah alumnus
MI Nafa tp. 2003

Sekarang Aktif Sebagai Manager KSU Nafa Takaful.
INFO GURU